APABILA SI BENCANA DATANG: KISAH DI DUA DESA

27 Mei empat tahun yang lalu. Di Suatu Pagi yang indah di Desa Mulyodadi, tiba-tiba bumi terguncang, penduduk berhamburan, entah tak tau apa yang mereka lakukan kecuali bagaimana menyelamatkan diri dan keluarganya dari amukan bencana.

Dalam waktu sekejap ratusan rumah roboh, suasana menjadi riuh. Korban pun berjatuhan. 200 orang lebih di Desa Mulyodadi meninggal. Suatu keadaan tak terduga dalam malam sebelumnya. Tidak ada perencanaan, tidak ada pemikiran sama sekali bahwa esok hari akan mengalami suatu peristiwa terdahsyat dalam hidupnya.

Pak Djoko, salah satu penduduk Mulyodadi, merupakan salah satu korban dari bencana. Tetapi dibandingkan dengan tetangga-tetangganya, ia lebih beruntung, karena rumahnya tidak rubuh termakan gempa, begitu pula anggota keluarganya selamat dari amukan bencana. Tetapi sebagai seorang warga, ia merasakan suatu rasa yang sama, suatu perasaan manusiawi untuk menolong sesamanya, untuk menimimalisir korban.

Pak Djoko dengan segera merelakan rumahnya dijadikan Posko penanganan korban bencana, serta langsung bergerak mengumpulkan bantuan-bantuan, baik dari kerabat maupun lembaga lain. Ia pula sebagai salah satu pengorganisir bantuan kepada keluarga-keluarga yang ada di sekitarnya.

Begitu pula pula yang terjadi dengan Pak Kholis Di desa Wonolelo. Sebuah desa yang terletak sekitar 10 km dari desa Mulyodadi. Desa Wonolelo juga mengalami bencana yang dahsyat, karena letaknya relative dekat juga dengan episentrum.

Sebuah desa yang sebagian besar bertopografi pegunungan, dan akses ke jalan yang begitu sulit, maka dapat dibayangkan bagaimana sulitnya evakuasi terhadap korban.

Tetapi hal itu tidak menyurutkan langkah Pak Kholis untuk segera mengorganisir, membentuk posko, memberikan pertolongan pertama, melakukan evakuasi serta menyalurkan bantuan. Bersama dengan warga desa lainnya, ia bahu membahu bekerjasama agar keadaan dapat pulih kembali seperti sedia kala.

Tetapi untuk ke depan, diperlukan peningkatan kesiapsiagaan dan antisipasi untuk menghadapi bencana. Itu lah tujuan dari Program Desa Tangguh, sebagaimana yang dilakukan oleh YP2SU di Desa Mulyodadi dan Wonolelo.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: