Edukasi Petani: Dampak & Solusi Perubahan Iklim Bagi Dunia Pertanian

Pada Tanggal 14 Mei 2010, pada pukul 13.00 s/d 15.30 WIB, bertempat di Masjid di Dukuh Tulasan diadakan Acara: Edukasi Petani Bagi Kring III tentang “Dampak Perubahan Iklim Pada Pertanian” oleh Pak Edy Soeharyanto Kepala Dinas Pertanian Dan Kehutanan, dengan dihadiri sekitar 40-an orang, dan hampir sepertiganya adalah kaum perempuan. Pada sesi itu Pak Edy memaparkan secara panjang lebar tentang Perubahan Iklim yang menjadi permasalahan saat ini adalah naiknya suhu udara.
Naiknya suhu udara diakibatkan oleh banyaknya gas rumah kaca (Karbondioksida dan metana) di atmosfer. Padahal fungsi dari gas rumah kaca adalah mempertahankan radiasi panas dari matahari. Dengan banyaknya gas rumah kaca, maka radiasi panas matahari banyak yang tertahan dan berakibat pada naiknya suhu permukaan bumi. Banyaknya gas rumah kaca itu diakibatkan oleh banyaknya asap yang dikeluarkan, baik dari cerobong pabrik maupun dari kendaraan bermotor, selain itu juga ditunjang dengan semakin menipisnya hutan. Padahal fungsi hutan adalah sebagai penyerap zat karbondioksida, maka dengan berkurangnya area hutan, maka zat karbondioksida tidak dapat diserap dalam jumlah sebanyak sebelumnya. Di wilayah Bantul sendiri, saat ini tidak kurang 300.000 kendaraan bermotor yang aktif mengeluarkan asap yang menyumbang zat karbondioksida pada atmosfer bumi.
Perubahan iklim tersebut berpengaruh terhadap pola tanam yang dilakukan oleh para petani. Karena petani melakukan penanaman didasarkan pada iklim, sehingga bergesernya waktu tanam sangat dimungkinkan. Selain itu, perubahan suhu mampu menstimulasi pertumbuhan dan perkembangan OPT (Organisme Pengganggu Tanaman). Pada tahun 2005, serangan wereng coklat di Cirebon memporakporandakan puluhan hektar tanaman padi, yang mengakibatkan ratusan hektar gagal panen (Pikiran Rakyat, 28/7/2005). Walaupun tidak terjadi di wilayah Bantul, maka tindakan antisipasi semestinya perlu dilakukan.
Agar risiko dampak perubahan iklim dapat diminimalisir, Pak Edy memberikan saran agar melakukan penghijauan besar-besaran, serta mengendalikan penebangan pohon. Contoh yang paling banyak adalah penebangan pohon dan diikuti dengan penutupan areal resapan air dengan cor-coran. Selain menekankan pentingnya penanaman pohon, Pak Edy juga menganjurkan untuk menghindari hal-hal yang memperparah kerusakan lingkungan hidup, yaitu pengiritan bahan bakar fosil atau aktivitas pembakaran. Untuk itu, lanjut Pak Edy, dinas pertanian siap bersedia untuk bekerjasama dengan para petani setempat untuk bersama-sama mengurangi dampak dari perubahan iklim Global.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: