Mengenal Risiko Bencana

Bencana?? Apabila kita mendengar kata itu disebutkan, maka yang terbayang dalam benak kita adalah kejadian-kejadian tragis yang merenggut banyak nyawa atau kerugian-kerugian besar.

Terbayang kejadian 4 tahun silam, tepatnya pada tanggal 27 Mei 2006, dimana seluruh DIY dan sebagian Jawa Tengah, mengalami musibah besar bencana gempa bumi yang merenggut ribuan nyawa manusia serta merusakkan dan merobohkan ribuan rumah penduduk.

Tetapi yang dinamakan Bencana itu tidak hanya gempa bumi dan bukan hanya bencana alam saja, seperti gempa bumi, gunung meletus, atau musibah banjir, melainkan juga bencana-bencana lain, seperti bencana kerusuhan, missalnya konflik social. Sehingga yang dinamakan bencana adalah peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat yang disebabkan baik oleh factor alam dan atau non alam maupun factor manusia sehingga mengakibatkan timbulnya korban jiwa manusia, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda dan dampak psikologis.

Karena Bencana adalah sebuah kejadian yang merugikan, terkadang kita tidak dapat membedakan dua kata, yaitu “bencana” (Disaster) dan “ancaman” (Hazard). Apabila yang dimaksudkan bencana sebagaimana yang disebutkan di atas, maka yang dinamakan “Ancaman” dapat disebut sebagai peristiwa/kejadian yang berpotensi menimbulkan bencana. Sehingga yang dinamakan bencana itu adalah peristiwa berikut dampak yang dihasilkannya,

sedangkan ancaman itu merujuk pada potensi dari sebuah kejadian. Misalnya saja ancaman banjir. Banjir tidak dapat disebut sebagai bencana apabila ia tidak menyebabkan kerugian sama sekali, tetapi ia cukup disebut sebagai Ancaman.

Apabila Ancaman itu menyebabkan banyaknya kerugian yang dialami oleh penduduk/masyarakat, maka Ancaman itu berubah statusnya menjadi bencana. Maka Bencana tidak mungkin terjadi di sebuah wilayah yang tidak ada penduduknya. Misalnya terjadi gempa bumi di gurun sahara yang tidak terdapat manusia yang tinggal di dalamnya. Bencana muncul apabila ada ancaman, berikut juga terdapat manusia yang mengalami ancaman itu.

Apabila manusia atau masyarakat yang tinggal di suatu desa tanggap terhadap ancaman, maka ia dapat selamat dari ancaman tersebut. Sebaliknya, apabila ia tidak tanggap terhadap ancaman, atau tidak memiliki kemampuan dan kapasitas yang dimiliknya untuk menghindari bencana, maka masyarakat itu disebut RENTAN terhadap Bencana.

Maka yang disebut sebagai KERENTANAN adalah suatu kumpulan atau rentetan kejadian yang menurunkan daya tangkal suatu masyarakat. Sehingga apabila ancaman datang, mereka tidak dapat menyelamatkan diri, dan yang terjadi timbulnya banyak kerugian yang dialami, dari kerugian kehilangan kerabat ataupun kerugian dalam bentuk materi.

Sebaliknya, apabila penduduk itu memiliki kekuatan atau kemampuan atau ketrampilan untuk menghindari dari bencana, maka segala kelebihan yang dimiliki oleh masyarakat dalam hal menghindari dari ancaman itu disebut sebagai KAPASITAS. Sehingga yang dinamakan sebagai Kapasitas adalah Kemampuan yang dimiliki oleh masyarakat untuk menghindari atau mengurangi resiko dari dampak bencana. Oleh karena itu, apabila masyarakat memiliki kapasitas yang tinggi dalam menghadapi ancaman, maka Resiko Bencana dapat dikurangi sekecil mungkin.

Oleh karena itu Semakin Besar Kapasitas yang dimiliki oleh suatu desa, maka semakin kecil pula resiko bencana. Sebaliknya semakin kecil kapasitas yang dimiliki oleh suatu desa dalam menghadapi bencana, maka semakin besar resiko bencana.

Untuk itu, kegiatan Pengurangan Resiko Bencana (PRB), dengan melakukan peningkatan Kapasitas serta menurunkan tingkat Kerentanan, sehingga apabila bencana datang, Resiko Kerusakan, Korban, dan kerugian dapat diminimalisir.

Rumus Resiko Bencana sebagaimana telah disebutkan, adalah Besarnya Resiko Bencana yang ada dalam Masyarakat tergantung pada besarnya ancaman dan kerentanan yang dimiliki oleh masyarakat serta ditunjang dengan kecilnya kapasitas yang dimiliki olehnya. Apabila dirumuskan dapat dibaca sebagaimana berikut;

Bentuk antisipasi Bencana itu, misalnya saja pencegahan terhadap bencana Demam Berdarah dengan mengurangi kerentanan masyarakat, misalnya dengan pencegahan lingkungan yang kumuh ataupun mengurangi jumlah genangan air di sekitar mereka. Kerentanan masyarakat itu apabila dikurangi, maka resiko terjadinya bencana Demam Berdarah dapat diminimalisir. Kesadaran akan kerentanan dan diikuti dengan kegiatan nyata merupakan satu-satunya solusi agar bencana demam berdarah dapat dicegah.

Pengurangan kerentanan itu diperlukan peningkatan kapasitas, seperti meningkatkan Sumberdaya Manusia atau organisasi-organisasi social yang dapat memobilisasi masyarakat untuk bersama-sama mencegah Penyakit Demam Berdarah. Bentuk peningkatan Sumberdaya itu dapat ditempuh melalui pelatihan ataupun pembinaan-pembinaan, baik dari relasi desa, dinas ataupun pihak swasta.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: